Kelebihan dan Kekurangan Mengubah Celah Elektroda Busi

Memperlebar celah elektroda bisa meningkatkan performa mesin. Mekanismenya seperti ini. Celah lebar memiliki ruang pembentukan percikan api lebih luas. Akibatnya quenching effect (penyaluran panas melalui elektroda) berkurang dibandingkan ukuran celah standar. Hasilnya percikan api mudah terbentuk karena panasnya terpusat di area celah elektroda. Panas yang optimal mempercepat proses terbentuknya pembakaran, bahkan lebih besar.

“Secara teori celah besar menguntungkan untuk memberi jalan proses pembesaran api, karena titik api yang dimulai dari tengah sedikit kena hambatan,” jelas Diko.

Hanya saja, setingan ini berisiko bila tak dibarengi penguatan komponen elektrikal lainnya agar tegangan yang dibutuhkan ikut membesar. Jika tak diimbangi, gejala mesin seperti sulit dinyalakan dan kegagalan terciptanya percikan api (misfire), khususnya pada kecepatan tinggi dapat terjadi. Kendaraan pada momen tertentu terasa seperti kehilangan tenaga dan terasa kasar saat posisi idle.

Selain karena jaraknya, terdapat faktor lain mempengaruhi, seperti kompresi mesin. Perlu diketahui, campuran bahan bakar dan udara yang berada di celah elektroda bersifat isolator sehingga membuat aliran listrik sulit melewatinya. Tetapi saat tegangan meningkat, struktur gas di antara elektroda terionisiasi. Gas yang terionisasi menjadi bersifat konduktor, sehingga arus listrik dapat mengalir dan menciptakan percikan api. Artinya, semakin tinggi kompresi, campuran bahan bakar dan udara semakin padat. Karena itu, dibutuhkan tegangan lebih besar agar arus listrik dapat mengalir memicu pembentukan percikan api.

“Dengan celah besar otomatis transfer energi listrik yang dibutuhkan juga harus kuat. Nah, ini bergantung pada spesifikasi koil atau CDI atau komponen listrik pendukung sebelum busi,” jelas Diko.